Fk.umsida.ac.id – Sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis student-centered learning Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FK UMSIDA) menyelenggarakan kegiatan Workshop Problem Based Learning (PBL) pada Sabtu, (23/4/2026).
Bertempat di ruang rapat Umsida, kegiatan ini diikuti oleh para dosen Fakultas Kedokteran dengan antusias tinggi, mengingat pentingnya penerapan metode PBL dalam dunia pendidikan kedokteran yang menekankan pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan pemecahan masalah.
Lihat juga: FK Umsida Dorong Remaja Siap Berkeluarga Lewat Edukasi Kesehatan Pranikah di SMA Kemala Bhayangkari 3 Porong
Acara dibuka dengan sambutan dari Dr. dr. Ronny Sutanto, FISQua, MARS, AIFO-K, Sp.OT, Subsp. CO (K) selaku Dekan FK Umsida. Dalam sambutannya, ia menyampaikan pentingnya memahami filosofi dan prinsip dasar PBL dalam pendidikan kedokteran pada pencapaian akademiksecara efektif dan terstandar.
Konsep dan Filosofi PBL dalam Pembelajaran Kedokteran
Seminar ini menghadirkan dr. Anisa Putri Maulida MHPE selaku pemateri utama sekaligus MEU FK UMM
Dalam materinya ia memaparkan terkait konsep dan filosofi Problem Based Learning. PBL merupakan pendekatan pembelajaran yang menempatkan mahasiswa sebagai pusat proses belajar, dengan masalah sebagai pemicu utama pembelajaran. Mahasiswa didorong untuk menggali pengetahuan secara mandiri melalui diskusi kelompok kecil yang terstruktur.
“Filosofi utama PBL tidak hanya berfokus pada hasil akhir berupa pengetahuan, tetapi juga pada proses belajar itu sendiri. Mahasiswa diajak untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi efektif, serta kemampuan bekerja sama dalam tim. Hal ini sangat relevan dengan tuntutan kompetensi dokter di masa depan yang tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga adaptif dan profesional” jelas dr Anisa saat menyampaikan materi.

Suasana yang awalnya formal menjadi lebih hangat, reflektif, dan penuh empati.
Ia memberikan pemahaman tentang perbedaan mendasar antara metode pembelajaran konvensional dengan PBL. Dalam metode konvensional, dosen berperan sebagai sumber utama informasi, sementara dalam PBL, dosen beralih menjadi fasilitator yang membimbing proses diskusi mahasiswa. Perubahan paradigma ini menjadi tantangan tersendiri yang dibahas secara mendalam dalam sesi ini.
Peran Tutor dan Dinamika Kelompok dalam PBL
Dalam sesi pemaparan materi berikutnya, dr Anisa membahas peran tutor dalam pelaksanaan PBL serta dinamika kelompok yang terjadi selama proses tutorial. Tutor memiliki peran strategis dalam memastikan jalannya diskusi tetap terarah tanpa mendominasi pembelajaran.
Diskusi interaktif membuat seminar semakin hidup,peserta diajak untuk memahami bagaimana menjadi fasilitator yang efektif, mampu mendorong partisipasi aktif mahasiswa, serta menjaga suasana diskusi tetap kondusif.
Selain itu, ia juga memaparkan bahwa dinamika kelompok juga menjadi fokus penting. Peserta workshop diajak untuk mengenali potensi konflik dalam kelompok serta strategi untuk mengatasinya secara konstruktif.
“Setiap kelompok memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga tutor perlu memiliki kemampuan untuk mengelola berbagai tipe mahasiswa, mulai dari yang aktif hingga yang cenderung pasif” terang dr Anisa
Diskusi interaktif dalam sesi ini memberikan ruang bagi para dosen untuk berbagi pengalaman dan tantangan yang selama ini dihadapi dalam pelaksanaan PBL. Dengan adanya pertukaran pengalaman tersebut, peserta mendapatkan wawasan baru serta solusi praktis yang dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.
Simulasi Tutorial, Praktik Fasilitasi, dan Feedback
Tak berhenti di teori, peserta workshop langsung ditantang untuk simulasi tutorial melalui role play sebagai bagian dari pembelajaran aplikatif.
Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan diminta untuk mempraktikkan langsung proses tutorial PBL. Beberapa peserta berperan sebagai tutor, sementara yang lainnya berperan sebagai mahasiswa.

Momen ini menjadi bukti nyata bagi peserta dalam mengelola diskusi kelompok, mengajukan pertanyaan pemicu, serta menjaga alur pembelajaran agar tetap fokus pada tujuan yang telah ditetapkan. Melalui praktik ini, peserta dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam menjalankan peran sebagai tutor.
Lihat juga: Kuliah Umum Umsida Tarik Antusias, Anies Baswedan Siap Beri Arahan
Tidak hanya itu, sesi praktik fasilitasi juga dilengkapi dengan pemberian feedback yang konstruktif. Pemateri memberikan evaluasi terhadap performa peserta selama simulasi, baik dari segi komunikasi, teknik bertanya, maupun kemampuan dalam mengelola dinamika kelompok. Feedback ini menjadi salah satu bagian penting dalam meningkatkan kompetensi dosen sebagai fasilitator PBL.
Peserta mengaku bahwa sesi praktik dan feedback ini sangat bermanfaat karena memberikan gambaran nyata tentang implementasi PBL di lapangan. Dengan adanya pengalaman langsung, peserta menjadi lebih percaya diri untuk menerapkan metode ini dalam proses pembelajaran.
Penulis: Isviyatul Haniya











